Minggu, 18 Januari 2009

Niat tulus

Berangkat..Ngga..Berangkat..Ngga..
Berangkat ngga yah?
Pertanyaan yang membuat Sabtu siang saya menjadi tidak nyaman.

Saya mendapatkan undangan dari junior saya di kampus, lebih tepatnya di Unit Kegiatan Mahasiswa (ukm) km Kelompok Jatingor 21 (KJ 21) untuk hadir pada acara Pendidikan dan Latihan (diklat) dan Musyawarah Besar (mubes) pada hari Sabtu, pukul 18.00 hingga selesai. Saya ingin sekali datang ke acara tersebut, namun tiba-tiba saya merasa kurang fit alias tidak enak badan. Mungkin disebabkan karena pada hari Jumat saya tidur terlalu larut, dan Sabtu saya sudah beraktivitas dari pagi hari, sehingga badan saya yang baru saja sembuh dari sakit, kembali bereaksi.

Saya memutuskan untuk tidur siang sejenak, sambil menunggu kabar dari teman yang juga ingin pergi ke Jatinangor. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.15, namun saya belum memutuskan untuk berangkat atau tidak ke Jatinangor. Baru ketika magrib, teman saya (Itay) menghubungi saya. Saat itu saya bimbang, mana yang saya pilih. Dengan waktu yang sangat sempit, saya bertanya pada diri sendiri. Dan saya mendapatkan jawaban: berangkat ke Jatinangor. Keputusan saya berangkat ke Jatingangor pukul 19.30 malam dengan bus Primajasa membuat orang tua saya berat memberikan izin. Tapi saya bertekad untuk tetap datang ke acara tersebut. Maka saya diizinkan dengan syarat harus membawa semua perlengkapan yang ibu saya sebutkan.

Perjalanan membutuhkan waktu lebih kurang 2 jam. Sesampainya di Jatinangor, udara yang dingin langsung menyapa tubuh saya. Itulah Jatinangor, sebuah kota di pinggiran Bandung-Sumedang yang memiliki cuaca ekstrim antara siang dan malam hari.

Kehadiran pada malam itu memberikan saya sebuah nilai. Bagaimana kami terikat satu sama lain, berteman dengan tulus dan berorganisasi tanpa ada paksaan serta tekanan. Saya bersyukur bisa menjalankan organisasi dengan baik bersama teman-teman yang lain. Rasa fun yang selalu mengelilingi hati kami dalam membina adik-adik asuh. Berjuang bersama untuk adik asuh tidak terasa jika diawali dengan niat dan baik dan tidak menjadikannya sebagai beban.

Inilah yang membuat saya bisa mengalahkan tubuh yang sedang tidak fit untuk tetap berangkat ke Jatinangor pada Sabtu malam, dan kembali ke Jakarta pada Minggu siang. Tidak ada rasa sesal, yang tersisa adalah rasa bahagia dan bisa tersenyum ketika kembali melewati TOL Cipularang.

Terima kasih teman-teman atas pengalaman yang menyenangkan ini. Pengalaman untuk memberikan sedikit kebahagian untuk adik asuh. Dan membuat saya selalu bersyukur kepada Tuhan atas segala nikmat yang diberikan kepada saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar