Minggu, 11 Januari 2009

Cinta air, cinta pohon, cinta lingkungan

Selamat Pagi!
Berjumpa di Senin pagi, tanggal 12 Januari 2009.

Jam menunjukkan pukul 08.20 ketika saya tiba di kantor. Setelah 50 menit duduk (dan ketiduran) di bis patas ac28, maka saya turun, karena memang sudah sampai lampu kuningan. Perjalanan menuju kantor dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati gedung-gedung bertingkat, mulai dari Palm Court Apartement, gedung YTKI, Wisma Mulia hingga Menara Jamsostek. Udara yang bersahabat untuk berjalan kaki di pagi hari, karena cuaca juga memang sudah mendung.

Siapa yang bisa menebak cuaca kota Jakarta?
Sebentar panas, sebentar hujan, sebentar badai, sebentar kering, sebentar berangin...
Yah, itu semua merupakan hasil yang kita tanam. Kita selalu menanam langit, sungai, tanah Jakarta dengan hal-hal yang tidak baik. Polusi dari jumlah kendaraan bermotor yang tidak terbendung, sampah yang tidak terpisah bahkan tidak pada tempatnya, melakukan kegiatan MCK dan mendirikan bangunan liar di sekitar sungai, menebang pohon serta menjadikan lahan hijau menjadi pusat perbelanjaan dan kegiatan-kegiatan lainnya yang membuat lingkungan Jakarta tidak pada kondisi sesungguhnya!

Inilah yang harus kita terima sebagai warga ibukota dan sekitarnya. Sebuah kondisi dimana alam sudah menunjukkan kekuatannya. Ketika kita melakukan hal-hal yang tidak baik pada lingkungan, kita tidak pernah berpikir banyak, tidak berpikir bahwa lingkungan tidak serta merta untuk diam dan membisu atas perbuatan manusia-manusia. Ketika sudah sampai batasnya, maka kita tidak akan menuai apa yang kita tanam.

Dari kecil kita selalu diajarkan untuk mencintai lingkungan, untuk menjaga sekitar, untuk tidak membuang sampah sembarangan, untuk tidak merusak alam. Tapi ternyata semua peringatan tentang hal itu semua, hanya masuk telinga kanan dan saat itu juga keluar dari telinga kiri. Tidak ada yang meresapi sampai pada tingkat hati dan pikiran! Kesadaran jenis apalagi yang harus ada di setiap manusia untuk bisa menjaga dan mencintai lingkungannya?
Tampaknya, saat ini kita hanya bisa menerima apa yang alam lakukan. Ketika alam ingin hujan badai, maka itu yang ia lakukan, dan kita, tidak bisa berbuat banyak. Toh, kita juga tidak memiliki pohon-pohon besar untuk membuat pertahanan agar tidak longsor, sungaipun tidak sanggup untuk menahan derasnya laju air, karena di dalamnya penuh dengan sampah!
Dan warga Jakarta siap atau tidak akan kedatangan banjir!

Kemarin saya membaca berita, bahwa sudah ada latihan untuk penanggulangan banjir yang datang tiap tahun. Kalau buat saya, bukan latihan yang diperlukan, namun kesadaran pada tiap individu untuk bisa menjaga lingkungannya, melakukan usaha maksimal demi lingkungan yang sudah buruk ini agar setidaknya menjadi lebih hijau.

Kita memang sudah terlamat. Tapi tidak ada salahnya untuk menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang diberi anugerah oleh Tuhan sebuah otak yang mampu berpikir. Dan sekarang adalah saatnya berpikir untuk tidak melakukan hal-hal yang mampu mencemari lingkungan. Tidak usah berbuat hal-hal besar, cukup dari diri kita sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar