Selasa, 24 Maret 2009

Gajel eps.1

Hujan-panas-mendung-kilat-geledek-panas-angin-hujan.
Cuaca yang tidak menentu sedang melanda bumi tercinta, terutama Jakarta!
Sangat tidak bersahabat untuk tubuh kita..
Wabah penyakit menjamur. Demam berdarah, gejala tipes, campak. Penyakit yang akan berakibat fatal jika tidak ditangani segera.

Ahh saya berbicara apa ini?
Tapi yang pasti. jaga kesehatan diri sendiri yah..
Lebih hati-hati..

Do Fun! Really??

Akhir minggu lalu, tepatnya hari Sabtu, saya berkesempatan untuk bermain-main di dufan.
Yipiiiii! Kesempatan yang bagus untuk teriak-teriak sepuasnya, untuk menguji adrenalin, dan tentu saja untuk menyenangkan diri sendiri!

Saya ditemani oleh seorang teman, yang kebetulan mau ikutan bermain dengan saya. Sampai di sana, cuaca cerah, matahari memancarkan sinarnya dengan kekuatan penuh! Sehingga pagi-siang itu terasa sangat terik. Tapi dengan semangat, kami bermain satu per satu wahana yang disediakan di dufan. Wahana yang memberikan tantangan atas rasa tinggi, rasa pusing, rasa mual. Tentu saja, ada rasa puas setelah kita mengalahkan wahana-wahana itu! Karena kita bisa melewati tantangan dan membuktikan keberanian.

Ada yang aneh ketika saya berada di sana. Di hari Sabtu yang notabene-nya weekend. Sudah pasti, Dufan ramai dikunjungi masyarakat Jakarta maupun yang dari luar Jakarta. Namun, untuk beberapa wahana tertentu, tidak terdapat antrian! Biasanya, saya selalu bermasalah dengan antrian yang panjang. Untuk kali ini, tidak terbukti. Saya heran, kanapa di dufan banyak orang, tapi ga ada yang antri untuk bermain? Saya harus menunggu lebih dari 15 menit untuk bermain kicir-kicir. Permainan yang hanya membutuhkan 20 orang saja! Aneeeeeehhhh bgt dufan di hari itu... Tlus, kalau dipikir-pikir, mereka rela membayar 120ribu untuk apa yah?
Hmm..??!!

Kesenangan apa yang mereka dapatkan jika tidak bermain wahana?
Tidak berani ketinggian?
Tidak mau mual?
Tidak berani ambil resiko pusing?
Apa jangan-jangan tidak berani tantangan?
So, buat apa ke dufan yang mengandung arti do fun!?!?

Janji Titatu

Lewat dari sebulan, saya tidak menulis.
Lewat dari sebulan, kejadian demi kejadian saya lewati.
Lewat dari sebulan, saya menghadapi setiap harinya dengan senang maupun sedih.

Saya sendiri bingung, harus memulai dari mana?
Satu yang pasti, saya dalam satu bulan ini sudah 2 kali ke dokter gigi.
Dokter lili yang dari kecil sudah mendampingi saya, namun saya selalu punya rasa takut yang berlebihan ketika harus duduk di kursi untuk diperiksa. Rasa lemas dan takut menghantui saya..
Setiap pulang dari dokte lili saya selalu berjanji dalam hati untuk sikat gigi sehabis makan siang. tapi itu hanya berjalan seminggu saja. setelah itu, saya pasti lalai.
dacaaaaal titatuuu nakaaaal!

Mulai hari ini, saya menetapkan dalam hati, untuk menggosok gigi sehabis makan siang!