Senin, 16 Februari 2009

Berbagi..

Minggu lalu saya berencana pergi ke Bandung, sekedar berlibur dan bertemu teman-teman di akhir pekan. Rencana sudah saya susun rapih dengan jadwal yang padat. Karena, memang waktu yang saya punya hanya 2 hari tetapi dengan tujuan yang banyak, hehehe.. :) .

Sabtu, 14 Februari 2009
Saya di rumah, melakukan aktivitas seperti biasa di hari libur. Bangun tidur, sikat gigi, baca koran, sarapan, nonton tv. Saya tidak jadi menghabiskan akhir pekan di Bandung. Karena sesuatu hal, saya memutuskan untuk tetap di Jakarta. Saya menunggu kabar dari seorang teman yang pada malam sebelumnya, ayahnya masuk rumah sakit.

Siang menjelang sore, saya berkeinginan untuk pergi ke rumah sakit, untuk bertemu dengan teman saya. Saya ingin memberinya dukungan supaya tetap semangat, dan optimis bahwa ayahnya bisa segera pulih. Namun saya tidak mendapatkan ijin untuk pergi ke rumah sakit jika tidak ada yang menemani.

Sore menjelang malam, saya masih di rumah dengan cemas, karena belum dapat teman yang akan menemani saya ke rumah sakit. Saya ingin datang ke rumah sakit untuk sekedar melihat teman saya, apakah dia baik-baik saja (walaupun yang sakit ayahnya). Akhirnya, pukul 7.30 malam saya ditemani dengan teman berangkat menuju rumah sakit. Jalanan begitu padat, karena pada malam itu sedikit spesial, maka banyak orang yang menghabiskan waktunya di luar rumah. Mungkin banyak acara yang diselenggarakan di malam itu sehingga mengundang banyak orang untuk datang. Penjual bunga mawar saya temui hampir di setiap traffic light yang saya lewati. Mencoba peruntungan di malam ini memang patut dicoba, yang menginginkan keuntungan di malam ini tidak salah, karena kebutuhan akan bunga, cokelat memang meningkat.

Sebelum sampai di rumah sakit, saya membeli beberapa makanan yang tidak 'berat' namun tetap bisa mengganjal rasa lapar (dan sudah tentu rasanya lezaaaaat!). Saya takut teman saya tidak sempat membawa bekal untuk berada di rumah sakit (ya iyalah, emangnya piknik, memikirkan bekal di perjalanan). Setelah melewati beberapa hambatan, saya berhasil bertemu teman saya. Setelah ngobrol sejenak dan memastikan teman saya baik-baik saja, saya memutuskan untuk pulang. Karena niat saya memang hanya sebentar, saya tidak ingin menggangu dia untuk bisa menjaga ayahnya. Saya pamit, masuk mobil, dan pulang ke rumah.

Pertemuan yang sangat singkat, namun berarti bagi saya. Pertemuan yang membuat hati saya tersenyum. Di hari itu, saya bisa menunjukkan rasa peduli saya terhadap teman saya. Saya tidak berniat lebih selain berbuat kebaikan walaupun tidak seberapa. Minimal, teman saya tidak kelaparan di dini hari sambil menjaga ayahnya yang sakit. Dengan berbagi, saya hidup saya bermakna. Memang, ini masih dalam tingkat kecil, tapi semoga saya bisa belajar untuk bisa berbagi lebih banyak..


PS: Semoga ayah kamu cepat sembuh yaaah.

Minggu, 15 Februari 2009

my bday mean

21/01/1985

Tita


You are Gold Lion, who is rather serious and polite type of person.
You value personal relationships.
You suppress yourself and act to be a sociable person.
But you are really a person who doesn't like to loose to anyone.
You dislike emotional atmosphere and vague attitude.
You want to make everything clear-cut.
You like to stay in your own little world.
If you get in a situation where there are lots of people you can not express yourself and act as a perfect person.
You are not very subjective sort of person, unlike ordinary women, but unfortunately you lack soft and gentle atmosphere.You tend to be too bold.
You cannot help but stretch your hand to those who are in need.You are very kind person who helps the weak.
You are also weak on compliments, and will work enthusiastically after someone has given a compliment.
You will go about your duty steadily and loyally, and not get in a rush to achieve the objective.
You have perseverance, and will work effortlessly until you reach your objective.
Something that you have worked steadily for a long, long time, will turn out to be an asset to the world.You are careful and rational, and therefore place value to steady life.
After getting married, you will be a devoted mother and a wife, but you are really a very dependent person, and prefer to keep your own little world.

Rabu, 11 Februari 2009

Tidak jelas

Ahh..saya malas sekali banun di pagi hari ini..
Saya memutuskan untuk menambah jam tidur saya dengan konsekuensi terlambat (sedikit) masuk kantor.

Di bus, saya sedikit merasa kedinginan, mungkin karena kondisi bus yang masih baik, memungkinkan AC bekerja dengan maksimal. Dan membuat rambut-rambut di lengan saya berdiri satu per satu, merespon udara yang didapatnya dari mesin pendingin yang sedang meniupkan angin.

Keluar dari bus, menyebrang melalui jembatan yang sangat panjang, kemudian naik metromini, turun dari metromini, naik+turun jembatan menuju kantor. Terlihat ribet bukan? Namun itu semua perjalanan yang menyenangkan bagi saya. Selama perjalanan tersebut, rambut saya dikeringkan secara sangat natural oleh angin yang berhembus dengan kencang -kebetulan, pagi ini saya mencuci rambut, dan tidak sempat untuk mengeringkannya di rumah-. Udara begerak membuat helai demi helai rambut saya menjadi acak, berantakan tidak aturan. Tapi saya cukup puas dengan hasil keringan secara alami oleh angin. Minimal, hal ini adalah olahraga untuk rambut saya. hehehe.. (aneeeh!)

Di kantor, ternyata saya masih menjadi orang ke-tiga yang tiba di ruangan. Prestasi tersendiri bagi saya untuk bisa datang tepat waktu di setiap harinya. Tapi, ternyata mood saya di pagi hari ini tidak terlalu baik. Semoga setelah makan siang, saya bisa lebih ceria, bisa lebih menyenangkan seperti biasanya.

Sebelum jam makan siang..
Ketidakjelasan yang saya alami hari ini dan hari-hari sebelumnya saya harapkan segera berakhir. Semoga saya cepat mendapatkan kejelasan. Amiiin.

*Menunggu lunch.. (yipppi!)

Senin, 09 Februari 2009

Luluh dengan Kopaja

Saat terindah saat bersamamu
Begitu lelapnya akupun terbuai
Sebenarnya aku tlah berharap
Ku kan memiliki dirimu selamanya

**Reff:
Segenap hatiku luluh lantak
mengiringi dukaku yang kehilangan dirimu
Sungguh ku tak mampu tuk meredam
kepedihan hatiku untuk merelakan kepergianmu

Ingin ku yakini cinta takkan berakhir
Namun takdir menuliskan kita harus berakhir

--Back to reff

(Luluh, by Samsons)

Penulisan lirik lagu di atas bukan karena saya sedang patah hati, atau sedih karena telah ditinggal orang yang saya sayangi. Dan bukan juga karena saya fans dari grup band Samsons. Namun lagu tersebut tiba-tiba stuck in my head sepanjang hari ini.

Lagu yang tiba-tiba muncul di kepala saya, dan terus membuat saya menyanyikannya. Padahal saya tidak tahu judulnya, sampai-sampai saya mendownload 4 buah lagu Samsons untuk mencari judul yang tepat dari lagu yang terngiang-ngiang di kepala saya.

Di pagi yang gelap serta diguyur hujan, saya naik Kopaja 66 dari halte Kuningan menuju kantor. Ketika sudah duduk di dalam Kopaja tersebut, saya baru menyadari adanya perbedaan dari tingkat kenyamanan. Kursi-nya empuk dan dilapisi sarung jok dengan warna krem muda. Jendela yang bersih serta besi-besi yang tidak karatan. Yang paling menarik adalah adanya televisi yang menyajikan video klip beserta syair dari lagu yang dinyanyikan (vcd karaoke) tentunya beserta speaker berukuran sedang.

Ketika saya berada di dalam Kopaja tersebut, lagu ini sedang diputar. Lagu yang sebelumnya saya jarang dengar, dan saat itu pun saya tidak tuntas mendengarkan lagu tersebut karena saya keburu turun dari Kopaja.

Jadi, apa yang bisa saya ambil dari kejadian ini?
Hmm..
1. Kopaja yang bagus
2. Lagu yang sedih
3. Rasa penasaran yang terobati
hehehe..

Semoga saya bisa naik angkutan umum dengan kondisi sebaik itu.

Minggu, 08 Februari 2009

Senang vs sedih

Minggu pertama di bulan Februari telah saya lewati..
Minggu yang menyenangkan sekaligus menyedihkan..
Sedih, karena saya harus kehilangan teman main kecil saya untuk selamanya.
Sedih, karena saya tidak mengetahui apa yang sedang terjadi pada perasaan saya.
Sedih, karena saya tidak bisa berbicara kepada **.****

TAPI..
Senang, karena saya memulai sesuatu yang baru terhadap pekerjaan saya.
Senang, karena saya bisa berbagi dengan banyak teman.
Senang, karena saya dapat berkumpul bersama teman SD.
Senang, karena saya tidak merasa sendirian.
Senang, karena saya merasa senang.. :)

Selasa, 03 Februari 2009

i Can!

Sore yang menentukan bagaimana **r**r saya selanjutnya.
Realitas atas keputusan yang sudah saya tempuh.
Bagaimana kelanjutan dari perjalanan yang baru saja saya mulai?
Saya sendiri tidak mengetahuinya.
Saya secara sadar memilih untuk melakukan yang terbaik atas apa yang sudah saya tetapkan, dan yang sudah diberikan oleh-Nya untuk saya.
Semoga saya bisa menjalaninya dengan penuh tanggung jawab.
Semoga saya terus maju tanpa banyak mengeluh.

Tuhan, tolong bimbing saya.

Siapa yang menjadi keledai?

Jakarta hujan lagi, dan saya kena macet lagi.

Untuk yang kedua kalinya, saya terjebak macet di TOL dalam selama 3 jam! Seperti keledai yang tidak pernah belajar, saya masuk ke dalam jurang yang sama.
Pagi itu, Jakarta memang diguyur hujan. Hujan yang turun dari malam hingga menjelang siang hari. Dampak yang ditimbulkan langsung terasa di saat itu juga. Saya harus berjam-jam duduk di dalam mobil tanpa pernah tau, kapan mobil saya akan bergerak maju.

Ketika hendak membayar pada gerbang tol dalam kota, which is itu di halim, saya bingung. Saya bingung karena banyaknya kendaraan yang diam tak bergerak, namun saya bingung karena ada 2 jalur yang tidak dibuka oleh Jasamarga. Pagi itu, jalanan begitu padat oleh mobil-mobil pribadi maupun umum, semua berlomba-lomba untuk cepat sampai pada tujuannya. Tapi, pihak Jasamarga seolah-olah menutup mata dengan kondisi yang demikian. 2 jalur paling kanan tetap tidak dibuka, dibiarkan kendaraan yang sudah terlanjur berada di jalur 1&2 untuk akhirnya harus mengantri ke jalur 3. Keadaan itu memperparah jalanan yang semakiiiiin padat!

Sebenarnya, saya tidak bisa menyalahkan hujan yang menghasilkan TOL dalam kota macet begitu parah. Tidak ada tindakan yang lebih konkrit dari pihak terkait untuk mengatasi keadaan ini. Saya manjadi bingung, siapa yang sebenarnya menjadi keledai? Jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya.

Senin, 02 Februari 2009

Sebuah Kisah Klasik Tante R

Di Sabtu (31/1) yang cerah, saya sudah siap meluncur ke Pla*a S*n***n untuk bertemu dengan seseorang. Pertemuan yang menurut saya unik, karena saya akan bertemu dengan orang (sebut saja Tante R) yang sudah 23 tahun tidak pernah bertatap muka dengan saya. Dalam perjalanan menuju PS, saya ditemani seorang teman (sebut saja F). Di dalam mobil, F terus bertanya tentang Tante R, bagaimana hubungannya dengan saya, tujuan dari pertemuan yang akan saya lakukan itu untuk apa, apakah Tante R bertanya saya akan datang sama siapa, dan rentetan pertanyaan lainnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akhirnya disimpulkan oleh F, bahwa saya harus hati-hati. Kenapa harus hati-hati? Karena bisa saja Tante R akan menawarkan berbagai bisnis yang sedang marak sekarang ini.

Saya sedikit terkejut mendengar pertanyaan-pertanyaan dari F, karena saya tidak pernah terbersit bahwa Tante R memiliki tujuan yang 'berbau bisnis' pada pertemuan ini. Pikiran saya mungkin terlalu positif, sehingga yang ada dibenak saya adalah ini temu kangen antara Tante dan keponakannya. Kemungkinan yang teman saya pikirkan jadi membuat saya ragu akan pertemuan ini. Bagaimana kalau saya diajak MLM A, atau MLM B? atau dipresentasikan sesuatu? Karena mungkin saja hal itu terjadi. Saya terus berpikir positif bahwa Tante R tidak mungkin berbuat seperti itu (walaupun tidak saya hindari bahwa perkataan F juga merasuki pikiran saya).

Akhirnya pun tiba, saya bertemu dengan Tante R. Tante yang ramah, baik hati, lembut, dan sangat perhatian pada sayaaaaa.! Perkataan teman saya tidak terbukti 100%, ketakutan saya tidak ada gunanya! Saya bertemu dengan pribadi yang sangat tulus. Tante R itu adalah calon tante saya (tapi tidak jadi), namun, dia memperlakukan saya seperti benar-benar keponakannya! Kami berbincang-bincang, berbagi cerita, tertawa bersama hingga berbagi makanan bersama (tentunya teman saya ikut diajaknya). Sore yang menyenangkan. Saya bertemu dengan orang baru, namun seperti kenal sudah lama. Silaturahmi yang terjalin kembali yang membuat saya maupun Tante R merasa saling memiliki (ceileeee..gaya aaah!).

Memang tidak pernah salah untuk kita menjalin silaturahmi. Memperbanyak saudara dan saling berbagi kasih sayang. Tidak ada batasan usia, latar belakang untuk kita saling berbagi dan perhatian, yang penting adalah tulus dari masing-masing pribadi.

Saya jadi bisa mengambil hikmah dari pertemuan di Sabtu sore itu.
Pertama, terus berpikir positif, dan meyakini hal tersebut yang akan terjadi.
Kedua, bisa menerima orang baru dengan tidak melihat umur, daerah asal, dll.
Ketiga, banyak saudara itu menyenangkan lhooo..

Mari-mari bersilaturahmi..