Minggu lalu saya berencana pergi ke Bandung, sekedar berlibur dan bertemu teman-teman di akhir pekan. Rencana sudah saya susun rapih dengan jadwal yang padat. Karena, memang waktu yang saya punya hanya 2 hari tetapi dengan tujuan yang banyak, hehehe.. :) .
Sabtu, 14 Februari 2009
Saya di rumah, melakukan aktivitas seperti biasa di hari libur. Bangun tidur, sikat gigi, baca koran, sarapan, nonton tv. Saya tidak jadi menghabiskan akhir pekan di Bandung. Karena sesuatu hal, saya memutuskan untuk tetap di Jakarta. Saya menunggu kabar dari seorang teman yang pada malam sebelumnya, ayahnya masuk rumah sakit.
Siang menjelang sore, saya berkeinginan untuk pergi ke rumah sakit, untuk bertemu dengan teman saya. Saya ingin memberinya dukungan supaya tetap semangat, dan optimis bahwa ayahnya bisa segera pulih. Namun saya tidak mendapatkan ijin untuk pergi ke rumah sakit jika tidak ada yang menemani.
Sore menjelang malam, saya masih di rumah dengan cemas, karena belum dapat teman yang akan menemani saya ke rumah sakit. Saya ingin datang ke rumah sakit untuk sekedar melihat teman saya, apakah dia baik-baik saja (walaupun yang sakit ayahnya). Akhirnya, pukul 7.30 malam saya ditemani dengan teman berangkat menuju rumah sakit. Jalanan begitu padat, karena pada malam itu sedikit spesial, maka banyak orang yang menghabiskan waktunya di luar rumah. Mungkin banyak acara yang diselenggarakan di malam itu sehingga mengundang banyak orang untuk datang. Penjual bunga mawar saya temui hampir di setiap traffic light yang saya lewati. Mencoba peruntungan di malam ini memang patut dicoba, yang menginginkan keuntungan di malam ini tidak salah, karena kebutuhan akan bunga, cokelat memang meningkat.
Sebelum sampai di rumah sakit, saya membeli beberapa makanan yang tidak 'berat' namun tetap bisa mengganjal rasa lapar (dan sudah tentu rasanya lezaaaaat!). Saya takut teman saya tidak sempat membawa bekal untuk berada di rumah sakit (ya iyalah, emangnya piknik, memikirkan bekal di perjalanan). Setelah melewati beberapa hambatan, saya berhasil bertemu teman saya. Setelah ngobrol sejenak dan memastikan teman saya baik-baik saja, saya memutuskan untuk pulang. Karena niat saya memang hanya sebentar, saya tidak ingin menggangu dia untuk bisa menjaga ayahnya. Saya pamit, masuk mobil, dan pulang ke rumah.
Pertemuan yang sangat singkat, namun berarti bagi saya. Pertemuan yang membuat hati saya tersenyum. Di hari itu, saya bisa menunjukkan rasa peduli saya terhadap teman saya. Saya tidak berniat lebih selain berbuat kebaikan walaupun tidak seberapa. Minimal, teman saya tidak kelaparan di dini hari sambil menjaga ayahnya yang sakit. Dengan berbagi, saya hidup saya bermakna. Memang, ini masih dalam tingkat kecil, tapi semoga saya bisa belajar untuk bisa berbagi lebih banyak..
PS: Semoga ayah kamu cepat sembuh yaaah.
You Reap What You've Sown : End.
17 tahun yang lalu
