Rabu, 28 Januari 2009

Yakin??!!?!

Bagaimana sesungguhnya perasaan bekerja?
Mengapa hati dapat berubah begitu cepat?

Apakah segala sesuatu yang terjadi merupakan hasil dari apa yang kita tanam?
Tidakkah sebuah keajaiban dapat menghampiri kita?

Lalu, bagaimana keyakinan dapat membuah hasil atas keinginan diri kita?

Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi di depan. Ramalan pun tidak sepenuhnya benar & tepat. Berbagai kemungkinan terus menyelimuti segala hal di dunia ini.

Tapi saya tahu pasti,
Ketika kita yakin terhadap suatu hal. Maka suatu hal tersebut akan terjadi.
It's happen!

Sekedar berbagi..
Pukul 9 malam, saya masih berada di kantor untuk menyelesaikan tugas. Biasanya, setelah solat magrib, saya sudah pulang menuju rumah menggunakan bis patas tujuan bekasi (walaupun turunnya di jatibening). Ketika saya hendak pulang, seorang rekan bertanya kepada saya,
Rekan (R) : Tita pulang naik apa?
Tita (T) : Gak tau mba, tergantung nasib?
(R) : Ih, kok bawa-bawa nasib?
(T) : Iya, kalo nasibnya bagus, berarti ada yang kasih aku tebengan. (sambil berdoa dalam hati bahwa hal itu akan terjadi).
(R) : Tapi kayanya ngga deh. hehehe..
(T) : hehehe.. (sambil berdoa)

Saya janjian bersama seorang teman untuk pulang bareng (minimal nyebrang jembatan bareng, karena hari sudah malam, dan saya agak takut). Ketika keluar dari lift teman saya berkata:
Teman : Tita, aku pulang naik taksi. Kamu mau ikut?
Tita : Wah boleh. Mau..mau.. Asyiiik
Teman : Yuuk..
Tita : (mengucapkan hamdallah di dalam hati)

Bisa dilihat kan contoh kecil di atas..
Mungkin ini sebuah kebetulan.. Tapi saya lebih percaya bahwa ini keyakinan saya. Saya yakin terhadap suatu hal. Dan Tuhan mewujudkan-Nya.

Senin, 26 Januari 2009

The Magic of Solar Eclipse

Today is special day..
Today is Imlek New Year a.k.a Gong Xi Fa Chai!
Dan tentunya, di hari ini kita semua bisa melihat gejala alam yang luar biasa. Gejala alam dari dunia astronomi, yakni gerhana matahari cincin.

Gerhana matahari cincin (GMC) terjadi karena piringan bulan tidak menutup sepenuhnya piringan matahari, hanya sekitar 92 persen. Karena itu, saat puncak gerhana, matahari terlihat seperti cincin yang memancarkan sinar di langit. Bagian tengah matahari tertutup bulan sehingga tampak gelap. (http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/23/11392225/menikmati.gerhana.matahari.cincin).

Saya berkesempatan untuk melihat langsung fenomena alam yang sangat langka ini. Dengan peralatan sederhana, yakni, kedua mata saya, sunglasses, dan tiga buah klise foto, saya pergi keluar rumah untuk melihat matahari dan bulan yang secara langsung muncuk bersamaan. Dua benda luar angkasa yang dengan sangat mesra muncul di langit bumi di sore hari ini. Perlahan namun pasti, bulan bergerak ke atas dan kemudian berada tepat di tengah matahari, sehingga di sekelilingi bulan tampak cahaya berpendar. Cahaya matahari.

Fenomena alam yang menarik. Sebuah kejadian yang belum tentu setahun sekali terjadi, dan belum tentu bisa dilihat dari wilayah Jakarta. Awal tahun yang mengesankan!
Matahari dan bulan membuat saya terpesona! Bagaimana tidak, kedua benda tersebut tampak sangat bersahabat, tidak saling bermusuhan, dan saling mengisi.

Matahari dengan legowo memantulkan cahaya ke bulan, sebagai benda langit yang tidak bisa dan tidak memiliki cahaya-nya sendiri. Sedangkan bulan, tahu diri untuk memberikan penerangan kepada planet bumi di malam hari, sebagai cahaya yang alami dan cuma-cuma.

Kita bisa melihat dan belajar banyak, bagaimana, dalam menjalankan hidup ini, kita saling mengisi dengan saling menolong, dan yang ditolong juga tahu diri untuk mempunyai tanggung jawab atas apa yang sudah diberikan..

Senin, 19 Januari 2009

Terima kasih

Bersyukur, karena hari ini tanggal 20 Januari.
Bersyukur, karena saya masih diberikan kesehatan, keselamatan, kebahagiaan.
Bersyukur, karena sampai hari ini, Saya dikelilingi orang-orang yang saya sayangi.
Bersyukur, karena masih banyak yang peduli dengan diri saya.
Bersyukur, karena saya masih bisa tersenyum setiap harinya.

Terima kasih Tuhan..
Terima kasih atas segala pemberian-Mu.

Minggu, 18 Januari 2009

Niat tulus

Berangkat..Ngga..Berangkat..Ngga..
Berangkat ngga yah?
Pertanyaan yang membuat Sabtu siang saya menjadi tidak nyaman.

Saya mendapatkan undangan dari junior saya di kampus, lebih tepatnya di Unit Kegiatan Mahasiswa (ukm) km Kelompok Jatingor 21 (KJ 21) untuk hadir pada acara Pendidikan dan Latihan (diklat) dan Musyawarah Besar (mubes) pada hari Sabtu, pukul 18.00 hingga selesai. Saya ingin sekali datang ke acara tersebut, namun tiba-tiba saya merasa kurang fit alias tidak enak badan. Mungkin disebabkan karena pada hari Jumat saya tidur terlalu larut, dan Sabtu saya sudah beraktivitas dari pagi hari, sehingga badan saya yang baru saja sembuh dari sakit, kembali bereaksi.

Saya memutuskan untuk tidur siang sejenak, sambil menunggu kabar dari teman yang juga ingin pergi ke Jatinangor. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.15, namun saya belum memutuskan untuk berangkat atau tidak ke Jatinangor. Baru ketika magrib, teman saya (Itay) menghubungi saya. Saat itu saya bimbang, mana yang saya pilih. Dengan waktu yang sangat sempit, saya bertanya pada diri sendiri. Dan saya mendapatkan jawaban: berangkat ke Jatinangor. Keputusan saya berangkat ke Jatingangor pukul 19.30 malam dengan bus Primajasa membuat orang tua saya berat memberikan izin. Tapi saya bertekad untuk tetap datang ke acara tersebut. Maka saya diizinkan dengan syarat harus membawa semua perlengkapan yang ibu saya sebutkan.

Perjalanan membutuhkan waktu lebih kurang 2 jam. Sesampainya di Jatinangor, udara yang dingin langsung menyapa tubuh saya. Itulah Jatinangor, sebuah kota di pinggiran Bandung-Sumedang yang memiliki cuaca ekstrim antara siang dan malam hari.

Kehadiran pada malam itu memberikan saya sebuah nilai. Bagaimana kami terikat satu sama lain, berteman dengan tulus dan berorganisasi tanpa ada paksaan serta tekanan. Saya bersyukur bisa menjalankan organisasi dengan baik bersama teman-teman yang lain. Rasa fun yang selalu mengelilingi hati kami dalam membina adik-adik asuh. Berjuang bersama untuk adik asuh tidak terasa jika diawali dengan niat dan baik dan tidak menjadikannya sebagai beban.

Inilah yang membuat saya bisa mengalahkan tubuh yang sedang tidak fit untuk tetap berangkat ke Jatinangor pada Sabtu malam, dan kembali ke Jakarta pada Minggu siang. Tidak ada rasa sesal, yang tersisa adalah rasa bahagia dan bisa tersenyum ketika kembali melewati TOL Cipularang.

Terima kasih teman-teman atas pengalaman yang menyenangkan ini. Pengalaman untuk memberikan sedikit kebahagian untuk adik asuh. Dan membuat saya selalu bersyukur kepada Tuhan atas segala nikmat yang diberikan kepada saya.

Sabtu, 17 Januari 2009

Sabtu pagi yang cerah, Saya memutuskan untuk bangun segera dari kasur untuk mandi dan siap-siap pergi ke Blitz Megaplex Grand Indonesia (GI).

Saya pikir, saya hanyalah sedikit orang yang mau meluangkan waktunya di Sabtu pagi hanya untuk menonton film gratisan! Sabtu pagi adalah waktu yang cocok untuk bersantai-santai di rumah, bermalas-malasan di depan tv, atau sekedar sarapan sambil membaca koran/majalah. Atau ini adalah waktu yang pas untuk mencuci mobil/sepeda motor miliki Anda. Film yang saya tonton tidak sekedar gratis, pemutaran di Sabtu pagi adalah pemutaran perdana.

Ketika saya sampai, waktu menunjukkan pukul 10 dan kondisinya sudah ramai. Wah, ternyata banyak juga yah yang mau meluangkan waktunya untuk menonton film di pagi hari. Tidak hanya satu film yang diputar, tapi ada beberapa judul film yang diputar perdana pada pagi hari itu. Pemutaran perdana yang diikuti dengan acara nonton bareng dengan penyelenggara masing-masing yang pastinya bekerja sama dengan Blitz GI.

Film yang memuat informasi, pendidikan, serta hiburan menawarkan pengalaman yang berbeda-beda bagi tiap orang yang menontonnya. Dengan tata gambar, tata suara serta acting dari para aktor serta aktris membuat setiap orang menangkap pesan dari film yang diputar. Pesan yang beragam dari tiap film membuat orang tetap bersemangat untuk pergi ke bioskop. Dengan tiket yang bisa didapatkan dengan membayar atau gratis, maka kita akan mendapatkan pengalaman baru, penambahan wawasan dan juga belajar banyak hal!

Di film Pintu Terlarang yang menceritakan seorang anak kecil yang disiksa oleh kedua orang tuanya. Penyiksaan dengan kekerasan yang berakhir fatal bagi kedua orang tuanya dan juga dirinya. Kekerasan yang tidak berujung pada kebahagiaan, namun kesengsaraan bagi anak tersebut.

Kekerasan yang ditampilkan bisa jadi juga terjadi di kehidupan nyata. Sekarang ini, kekerasan digunakan di segala bidang. Tidak ada lagi cara kekeluargaan. Tidak ada toleransi, tepa selira yang harusnya menjadi pegangan setiap manusia dalam menjalani kehidupan. Anak kecil, remaja, orang dewasa sudah dekat dengan kekerasan. Kekerasan dari lingkungan terdekat, yakni keluarga, dari lingkungan sekolah yang seharusnya memberikan pendidikan yang baik, hingga kekerasan dari lingkungan luar. Hal tersebut terus terjadi di setiap saat. Kita bisa membaca koran, melihat televisi dan mendengar radio yang selalu up to date untuk berita kekerasan. Kekerasan ditampilkan dengan cara-cara yang keji. Cara-cara yang sudah tidak manusiawi.

Di manakah letak hari nurani seseorang hingga tega melakukan semua hal yang tidak pantas dilakukan sebagai sesama manusia?

Selasa, 13 Januari 2009

Di Pagi Hari...

Pengalaman memang memberikan kita pelajaran berharga.
Setelah kemarin terjebak macet selama 3 jam, maka pagi ini saya memutuskan berangkat ke kantor lebih awal. Kondisi tidak jauh berbeda, saya berangkat ditemani oleh rintikan air yang turun dari langit. Rintika-rintikan yang memberi saya harapan-harapan baru di pagi hari. Tidak boleh ada keluhan dengan keadaan yang setiap harinya merupakan berkah dari Yang Maha Kuasa.

Pagi ini, saya mendengar curahan hati Mba Sandra (bukan nama sebenarnya) yang mengudara melalui salah satu saluran radio. Mba Sandra bercerita mengenai manajer-nya yang dia sumpahi agar rumah manajer tersebut kebanjiran. Mba Sandra sebagai seorang karyawan merasa diberlakukan tidak adil. Karena, jika Mba Sandra (berserta karyawan lainnya) terlambat datang ke kantor 1 menit, maka yang terjadi adalah pemotongan gaji 1/2 bulan. Jika tidak masuk 1 hari (dengan alasan apapun), maka permotongan gaji 1 bulan.

Siapa yang tidak marah? tidak miris mendengar peraturan seperti itu? Padahal kita tahu, bahwa jalan raya di Jakarta tidak bisa ditebak. Hujan dikit, macet. Hujan besar, banjir, lalu macet. Dan kemungkinan untuk terlambat ke kantor pasti ada. Lalu, jika memang jalanan macet parah seperti kemarin, mau bilang apa?

Saya tidak bisa berbuat apa mendengar peraturan tersebut, kecuali hanya berharap bahwa Mba Sandra beserta teman-temannya tidak akan terlambat masuk ke kantor, dengan resiko yang begitu tinggi, yaitu pemotongan gaji. Alhamdulilah, peraturan di kantor saya tidak sedemikian ketatnya. Mendengar cerita Mba Sandra, saya berpikir dan berniat untuk terus tepat waktu datang ke kantor. Walaupun untuk urusan kedatangan karyawan, kantor saya sangat longgar. Dengan ke kantor lebih awal, diharapkan hati dan pikiran jauh lebih segar, sehingga akan jauh lebih semangat menjalani kegiatan selama seharian.

Ayo..ayo.. mari kita selalu semangat di setiap paginya untuk disiplin dengan waktu. Jadi ingat sebuah iklan rokok...:

"Kalo rejeki dateng dari bangun pagi ngapain juga kerja lembur?
( ) Ngapain pagi-pagi
( ) Ngapain ngelembur

Better

Our love has changed
It's not the same
And the only way to say it is say it..
it's better

I can't conceal
This way I feel
For all the times we spent together
Forever just gets better

See what I'm try to say is
You make things better
And no matter what the day is
With you here it's better

I'll stand by you
If you stand by me
I think it's time that I reveal it
Cause I believe it
It's better

See what I'm trying to say is
You make things better
And no matter what the day is
If you're here it's better

Ooh the more I talk to you
I fall in love with everything you do

Oooh..
See what I'm try to say is
You make things better
And no matter what the day is
With you here it's better

Our love has changed
It's not the same
And the only way to say it is say it..
it's better

*Better-Boyzone

Senin, 12 Januari 2009

Tersendat kok 180 menit!


Oh tidaaaaaak!
Jalan TOL DALAM KOTA sungguh tidak bersahabat!
Ini bukan keluhan, namun fakta. Dan, saya, mengalaminya.

Pagi ini, cuaca memang sangat mendukung untuk tidur terlelap dengan nyenyak. Jika tidak ada intervensi dari Ibu dan Bapa, maka saya akan terus menyelimuti badan dan pergi jauh ke pulau kapuk. Namun, kenyataan berkata lain, ini hari Selasa, bukan waktunya untuk tidur sampai siang! Dengan rasa kantuk yang ada, saya pun bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Pukul 7.10 saya udah di dalam mobil dan siap berangkat pergi ke kantor..

Masuk TOL Pondok Gede Timur keadaan masih normal. Begitu melewati gerbang Pondok Gede Barat, keadaan mulai tersendat. Saya pikir, ini normal, tersendat hingga Cawang-Tebet-Kuningan. Namun..tak disangka dan tak dingaya, ruas TOL Pondok Gede Barat hingga Gerbang TOL Halim (masuk TOL dalam kota), memakan waktu lebih kurang 2 JAM = 120 MENIT!! Waktu tempuh normal hanya 30 menit, andaikata macet pun paling lama 1 jam saja. Hari ini memang payah! Entah apa yang menyebabkan ini terjadi. Tidak ada kecelakaan, tidak ada mobil/bus/truk yang mogok, tidak ada KOMO lewat, tidak ada pejabat yang diiringi mobil-mobil penjaga, dan tidak ada hal-hal yang biasanya membuat kemacetan di jalan raya.

Selepas gerbang TOL Halim, perjalanan dilanjutkan hingga kantor, dan itu memakan waktu 1 jam. Jadi, kalau di total, perjalanan saya hari ini ke kantor membutuhkan waktu lebih kurang 3 JAM! Kalau dibuat jalan ke Bandung, pasti saya sudah sampai kota kembang tersebut. Jarak yang tidak sampai 20 km, namun waktu yang dibutuhkan sangat lama.

Dengan suksesnya, saya sampai kantor pukul 10. Padahal saya ada training pukul 9. Alhamdulilah, training belum dimulai. Jadi, walaupun saya telat sampai di kantor, saya masih bisa mengikuti training yang harus saya hadiri. Semoga, perjalanan panjang di pagi hari ini tidak terulang pada malam hari dan keesokan hari ketika saya akan pergi ke kantor.

Jakarta..Oh Jakarta..
Beban apa yang kamu tanggung?
Sehingga ketika hujan turun, engkau langsung macet tiada tara..
Hatiku merana melihat keadaanmu seperti ini..

*Curahan hati penduduk pinggiran, yang mengadu nasib di ibukota

Minggu, 11 Januari 2009

Nomor Pokok Wajib Pertemanan

Di tahun 2008, kita sering mendengar, melihat kata Sunset Policy.

Apa sih Sunset Policy itu?
Sunset Policy adalah kebijakan pemberian fasilitas perpajakan, yang berlaku hanya di tahun 2008, dalam bentuk penghapusan sanksi administrasi perpajakan berupa bunga yang diatur dalam Pasal 37A Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007).

Di dalam Sunset Policy, kita sebagai orang secara pribadi bisa memanfaatkan program ini untuk memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). NPWP adalah Nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana administratip perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam memenuhi hak dan kewajiban perpajakan (http://www.kanwilpajakkhusus.depkeu.go.id/NPWP/NPWP.htm).

Saya sendiri tidak tahu pasti manfaat dari memiliki NPWP, yang saya tahu adalah jika kita keluar negeri dan kita memiliki NPWP, kita tidak akan membayar fiskal sejumlah Rp 2.500.000, tapi selebihnya saya tidak tahu. Mungkin, sebagai warga negara yang baik, yang sadar akan kewajibannya, wajib membayar pajak dari penghasilan yang diterima. Maka, NPWP ada untuk memfasilitasi itu semua. Berhubung saya akan segera berpenghasilan, maka saya berniat untuk memiliki NPWP. (Ingat, masih akan berpenghasilan!)

Ada kesempatan, di mana kantor pajak keliling mampir di gedung tempat saya bekerja. Namun, karena bingung dengan status pekerjaan, saya tidak mendaftarkan diri untuk memiliki NPWP! Keputusan yang kurang tepat. Kapan lagi bisa mengurus NPWP tanpa perlu ke Kantor Pelayanan Pajak? Tanpa harus mengantri berpanas-panasan dan berdesak-desakan? Keputusan yang salah! Harusnya saya langsung mendaftarkan diri walaupun belum berpenghasilan tetap! Resiko yang harus ditanggung adalah saya harus membuat NPWP melalui KPP! Dan setelah Desember 2008, Sunset Policy tidak berlaku lagi.. Denda deh saya!

Namun, dibalik rasa penyesalan, karena tidak memanfaatkan KPP yang bersedia berkeliling di gedung perkantoran seantero Jakarta, masih ada harapan yang tersisa....

Siang ini, seperti siang-siang lainnya, saya menghabiskan jam istirahat untuk makan siang bersama teman-teman seperjuangan saya. Salah satu teman saya, mengajak berkunjung ke menara selatan (kantor saya di menara utara) untuk memastikan apakah di gedung sebelah terdapat kantor pajak. Setelah makan siang, saya bersama 2 teman menuju ke gedung selatan, dan ternyata di sana ada kantor pajak! Kesempatan untuk buat NPWP terbuka (walaupun belum pasti).

Kami menuju lantai di mana kantor pajak itu berada. Setelah sampai pada lantai yang dituju, dengan tidak sengaja, teman saya bertemu dengan temannya yang ternyata bekerja di kantor pajak tersebut. Maka kami berkenalan, dan setelah itu kami bertiga diminta duduk di ruang tunggu (layaknya ruang tunggu sebuah kantor, rumah dan tidak ada tanda-tanda sebagai ruang tunggu kantor pelayanan) sampai ada petugas datang untuk melayani kami.

Sekali lagi, harapan masih ada..
Seorang petugas keluar menghampiri kami. Setelah bertanya maksud kedatangan kami, ia pun berkata: "Sebenarnya, untuk pembuatan NPWP harus di KPP di dekat Komdak, tapi karena kalian temennya X, maka saya kasih keringanan untuk dibuatkan di sini. Dan hari Rabu bisa diambil NPWP-nya."

Waw! bayang-bayang buruk untuk membuat NPWP sendiri musnah sudah. Karena berkat bantuan teman (perkenalan dengan X), membuahkan hasil yang baik. Saya bersama dua orang teman, akan segera memiliki NPWP. Walaupun tidak tahu manfaat sesungguhnya. Yang penting, saya bisa tersenyum, sebagai warga negara yang baik, saya akan segera membantu negara tercinta ini melalui pembayaran pajak! (Yakin nih??!!). Jadi, karena salah satu dari kami adalah temannya X, maka kami bisa dibuatkan NPWP cuma-cuma! Dengan hanya menyerahkan fotokopi KTP. Tidak pakai antri, tidak pakai isi formulir! Jadi seneng deh! Saya mendapatkan kemudahan dengan berteman.

Berteman itu harus tulus... Ga peduli teman kita lulusan mana, daerah asalnya mana, orang tuanya siapa, umurnya berapa, warna kulitnya apa. Dengan berteman sebanyak-banyaknya, keuntungan pun akan didapatkan.

Mari..mari..kita berteman!

Cinta air, cinta pohon, cinta lingkungan

Selamat Pagi!
Berjumpa di Senin pagi, tanggal 12 Januari 2009.

Jam menunjukkan pukul 08.20 ketika saya tiba di kantor. Setelah 50 menit duduk (dan ketiduran) di bis patas ac28, maka saya turun, karena memang sudah sampai lampu kuningan. Perjalanan menuju kantor dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati gedung-gedung bertingkat, mulai dari Palm Court Apartement, gedung YTKI, Wisma Mulia hingga Menara Jamsostek. Udara yang bersahabat untuk berjalan kaki di pagi hari, karena cuaca juga memang sudah mendung.

Siapa yang bisa menebak cuaca kota Jakarta?
Sebentar panas, sebentar hujan, sebentar badai, sebentar kering, sebentar berangin...
Yah, itu semua merupakan hasil yang kita tanam. Kita selalu menanam langit, sungai, tanah Jakarta dengan hal-hal yang tidak baik. Polusi dari jumlah kendaraan bermotor yang tidak terbendung, sampah yang tidak terpisah bahkan tidak pada tempatnya, melakukan kegiatan MCK dan mendirikan bangunan liar di sekitar sungai, menebang pohon serta menjadikan lahan hijau menjadi pusat perbelanjaan dan kegiatan-kegiatan lainnya yang membuat lingkungan Jakarta tidak pada kondisi sesungguhnya!

Inilah yang harus kita terima sebagai warga ibukota dan sekitarnya. Sebuah kondisi dimana alam sudah menunjukkan kekuatannya. Ketika kita melakukan hal-hal yang tidak baik pada lingkungan, kita tidak pernah berpikir banyak, tidak berpikir bahwa lingkungan tidak serta merta untuk diam dan membisu atas perbuatan manusia-manusia. Ketika sudah sampai batasnya, maka kita tidak akan menuai apa yang kita tanam.

Dari kecil kita selalu diajarkan untuk mencintai lingkungan, untuk menjaga sekitar, untuk tidak membuang sampah sembarangan, untuk tidak merusak alam. Tapi ternyata semua peringatan tentang hal itu semua, hanya masuk telinga kanan dan saat itu juga keluar dari telinga kiri. Tidak ada yang meresapi sampai pada tingkat hati dan pikiran! Kesadaran jenis apalagi yang harus ada di setiap manusia untuk bisa menjaga dan mencintai lingkungannya?
Tampaknya, saat ini kita hanya bisa menerima apa yang alam lakukan. Ketika alam ingin hujan badai, maka itu yang ia lakukan, dan kita, tidak bisa berbuat banyak. Toh, kita juga tidak memiliki pohon-pohon besar untuk membuat pertahanan agar tidak longsor, sungaipun tidak sanggup untuk menahan derasnya laju air, karena di dalamnya penuh dengan sampah!
Dan warga Jakarta siap atau tidak akan kedatangan banjir!

Kemarin saya membaca berita, bahwa sudah ada latihan untuk penanggulangan banjir yang datang tiap tahun. Kalau buat saya, bukan latihan yang diperlukan, namun kesadaran pada tiap individu untuk bisa menjaga lingkungannya, melakukan usaha maksimal demi lingkungan yang sudah buruk ini agar setidaknya menjadi lebih hijau.

Kita memang sudah terlamat. Tapi tidak ada salahnya untuk menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang diberi anugerah oleh Tuhan sebuah otak yang mampu berpikir. Dan sekarang adalah saatnya berpikir untuk tidak melakukan hal-hal yang mampu mencemari lingkungan. Tidak usah berbuat hal-hal besar, cukup dari diri kita sendiri.

Gerai SIM

Mengemudikan Kendaraan Bermotor, tidak dapat menunjukkan SIM dipidana kurungan 2 (dua) bulan atau denda maksimal Rp 2.000.000 (pasal 59 ayat (1) UU No. 14 tahun 1992).

Kalimat sakti tersebut ada di setiap Surat Izin Mengemudi, alias SIM. Maka, hampir setiap orang yang sudah berumur 17 dan bisa mengendarai motor atau mobil, wajib memiliki kartu kecil ini. Dan sudah tentu, setiap orang yang ingin memiliki SIM mempunyai pengalaman sendiri-sendiri. Pengalaman melihat bagaimana proses untuk bisa mendapatkan SIM sangatlah tidak mudah! Bisa saja kita mengurus sendiri, dengan tes teori, tes praktik, namun, belum tentu kita lulus itu semua. Kadang lulus tes teori, eh ga lulus tes praktik, dan begitu juga sebaliknya. Ada jalan pintas yang kita tidak usah mengikuti prosedur, hanya datang, foto+tanda tangan, tlus jadi deh SIM-nya. Hanya saja pasti ada uang untuk itu semua. Jadi, pilih mana?? Dengan mendapatkan pengalaman seperti itu, maka bayangan saya ketika harus memperpanjang SIM juga pasti akan ribet!

10 hari masih tersisa sebelum SIM saya benar-benar dicabut! Maka dengan semangat yang ada, saya ditemani seorang teman, menuju salah satu mall di daerah Kelapa Gading. Menurut informasi yang saya dapatkan, terdapat gerai SIM (semacam mobil SIM keliling) yang memiliki pelayanan untuk memperpanjang SIM dan STNK. Wah, tak disangka, jam 10 lewat dikit saya sampai, gerai tersebut sudah buka! Di hari Minggu, ternyata pegawai-nya sudah siap melayani. Tanpa banyak tanya, saya langsung ke loket pendaftaran dengan menunjukkan SIM lama serta 1 lembar fotokopi KTP. Saya mendapatkan formulir isian. Setelah diisi, formulir tersebut dikembalikan ke petugas. Saya menunggu giliran dipanggil untuk foto dengan hanya menunggu kurang dari 10 menit. Kemudian tiba waktunya saya untuk difoto, cab ibu jari dan tanda tangan.

Taraaaaaaa! SIM saya sudah jadi.
Serius nih? Iya beneran!
Setelah membayar Rp 100.000, SIM sudah di tangan saya.
Waaaaah cepatnya!
Bayangan buruk yang ada di kepala tidak muncul pada proses perpanjangan SIM yang saya lakukan tadi pagi. Semoga pelayanan semacam ini dapat dilanjutkan untuk pelayanan-pelayanan publik lainnya.

Keuntungan perpanjang SIM di gerai SIM.
1. Tempatnya nyaman (dingin, tidak berisik, tidak sesak)
2. Tidak ada praktik pecaloan
3. Cepat
4. Bisa langsung jalan-jalan, karena gerainya berada di dalam sebuah mall.

Jadi, buat yang ingin memperpanjang SIM tanpa harus berpanas-panasan, bersesak-sesakan, pungutan liar, dan hal-hal buruk lainnya, tidak ada salahnya lho, memperpanjang SIM di Gerai SIM yang berada di Mall Artha Gading, dan PGC. Jam bukanya 10.00 setiap hari!
Biar lebih cepat lagi, datang pagi-pagi..
Selamat mencoba!

Kamis, 08 Januari 2009

Monyet Lagi Disko Bareng Agoes!

Cakep..Cakep..Cuaaakep.
Jojing..Jojing..Jojing..
Mau..Mau..Mau..?

Hampir setiap hari, dan hampir di setiap stasiun, kutipan iklan di atas seperti membayang-bayangin hari saya. Tiap pindah channel, muncul iklan yang sama, yakni iklan provider telepon. Iklan yang memiliki setting seorang pria berada di sebuah diskotik/bar/clab malam yang ingin mengajak 'joget' tiga perempuan cantik.

Tak mau ketinggalan, provider lain juga gencar menjalankan promosi dengan menampilkan seekor monyet yang sedang 'memainkan' handphone milik artis cantik Luna Maya. Dan sudah dipastikan, provider lainnya juga berlomba-lomba dalam berpromosi. Seakan tidak pernah ada habisnya dana yang mereka miliki untuk memikat calon konsumen.

Kartus provider, sebagai bagian dari industri telekomunikasi sedang ON FIRE untuk melakukan campaign. Berbagai cara berpromosi dilakukan. Dari iklan yang sangat menarik, hingga iklan yang sekedar membalas kartu provider saingan. Untuk zaman sekarang, hal tersebut lumrah dilakukan. Mengingat peta kompetisi semakin ketat dan semakin panas!

Saya, dan Anda, sebagai konsumen bisa mengambil keadaan yang sebenernya menguntungkan, karena mereka terus menjaga tarif agar tetep terjangkau. Namun, kita juga harus waspada dengan program promosi yang mereka tawarkan. Jangan sampai tertipu..

Daniel Powter

Ya ampun..

Ternyata tadi malam, nama saya disebut di blog sahabat sendiri..
Walaupun dengan inisial! hahaha..
Gpp C*t, itu menandakan bahwa my love story memang patut untuk dipertanyakan.. Sebenernya, bukan love story-nya sih, tapi oknum D****e-nya..
Tapi ya sudah la yah, semuanya udah lewat. Ga ada yang harus diingat-ingat lagi, dan semua yang sudah terjadi merupakan kenangan indah untuk hidup saya.

Di hari itu..

Where is the moment we needed the most
You kick up the leaves and the magic is lost
They tell me your blue skies fade to gray
They tell me your passion's gone away
And I don't need no carryin' on
--
Sometimes the system goes on the blink
And the whole thing turns out wrong
You might not make it back and you know
That you could be well oh that strong
And I'm not wrong


Sudah ah, saatnya kembali optimis menatap masa depan!

Rabu, 07 Januari 2009

sakit kepala..

Nyut..Nyut..Nyut..

Liburan emang udah lewat..
Tahun baru juga udah seminggu yang lalu..
Tapi..ternyata badan masih menanggung sisa-sisa keceriaan dengan rasa sakit di badan..

* demam 2 malam
* mimisan 1x di bis
* mual+keringat dingin 1x di pagi hari

Dengan tanda-tanda seperti itu , tampak saya harus cek darah, lagi sakit apa ini? Namun, niat tersebut saya urungkan, karena pada hari ke 3 tanda-tanda itu hilang, namun diganti dengan rasa sakit di kepala.. dan saya putuskan untuk ke dokter.

Pulang dari dokter, dikasih obat untuk sakit kepala dan vitamin B. Tidak pernah kebayang, akan dapat vitamin B :)
Jadi sebenernya saya sakit apa yah? Entah lah! Dan itu tidak saya pikirkan. Yang penting adalah makan+istirahat yang banyak dan teratur, minum obat dan berdoa.

Semoga Titatu lekas sembuh.
Amin.

Macet Ga Ya?


Semangat!

Ini adalah udah hari ke 3 memasuki rutinitas. Saatnya kembali sekolah, kuliah, atau bekerja. Di tahun kerbau ini, kita, sebagai warga Jakarta dan sekitarnya diujicoba dengan peraturan daerah ibukota mengenai jam masuk sekolah yang maju lebih awal 30 menit. Katanya Bapak Prijanto sih, akan mengurangi kemacetan pada pagi hari.

Setiap harinya, Saya menuju ke kantor melewati gerbang TOL Jatibening dan keluar di Kuningan.. Tapi belum merasakan perubahan yang signifikan yah? Apa ini hanya perasaan saja atau kenyataan? Dengar-dengar, Bapak Prijanto juga akan mengatur jam masuk kantor juga, demi mengurangi kemacetan.. yah kita doakan semoga berhasil..

Saya pikir, dengan jam sekolah yang dipercepat, jalanan ibukota akan lengang seperti keadaan di akhir tahun lalu..
Wiiiihh..mantabs lah! Kalau jalan TOL atau jalan raya bisa lancar, teratur..
Kapan yah Jakarta bisa seperti itu untuk setiap harinya?


Kamis, 01 Januari 2009

L.E.G.O is lego


Kagum!
Satu kata dari saya untuk pameran kecil yang saya kunjungi di akhir bulan Desember lalu. Berbagai miniatur dari bangunan kebanggaan Indonesia tampak hadir di salah satu pusat hiburan di Jl.Jend Sudirman Jakarta. Tidak hanya miniatur dari bangunan, namun juga ada berbagai bentuk topeng khas Indonesia, pohon terang dan mobil F1 Ferarri.
Contohnya adalah bangunan Monas. Gedung ini berdiri dengan kokoh, yang dibangun menggunakan lego berwarna putih, lengkap dengan api emas pada puncaknya. Tidak ketinggalan para pengunjung! Lego merupakan mainan untuk semua kalangan usia dari anak-anak hingga dewasa, tidak ada batas usia untuk menyenangi mainan ini. Mainan yang mampu mengasah imajinasi dan kreativitas. Jenis mainan yang sangat positif sekaligus menyenangkan! Warna-warni dari setiap lego akan membuktikan hal tersebut.
Selamat bermain!

Welcome 2009

Happy new year!!
Happy new year!!

2009 is coming..
Saatnya bangkit dan bergerak maju!
Tanamkan niat baik dan positive thinking di awal tahun ini..

Banyak kejadian penting di tahun 2008.. Saya melewatinya dengan penuh perasaan senang, sedih, terharu, optimis, jatuh. Kejadian-kejadian yang menambah khasanah kehidupan saya. Kelulusan atas pendidikan jenjang sarjana, mempererat hubungan dengan sahabat, teman, orang tua, yang memang terbukti ampuh untuk ketenangan hati dan jiwa (baik saat senang maupun susah), bekerja secara profesional untuk pertama kalinya, dan sejuta pengalaman lainnya yang tidak dapat disebutkan satu-persatu..

Tentunya, pengalaman tersebut merupakan perjalanan dari kehidupan saya dalam proses pendewasaan diri. Sebuah proses dari yang harus dilalui tidak hanya dengan tertawa, senyum namun juga isak tangis. Itulah hidup, yang selalu berwarna dan penuh makna.

Selamat tinggal 2008! Terima kasih buat semua hal yang sudah terjadi.
Selamat datang 2009! Semoga ini akan menjadi tahun yang baik buat kita semua..