Selasa, 03 Februari 2009

Siapa yang menjadi keledai?

Jakarta hujan lagi, dan saya kena macet lagi.

Untuk yang kedua kalinya, saya terjebak macet di TOL dalam selama 3 jam! Seperti keledai yang tidak pernah belajar, saya masuk ke dalam jurang yang sama.
Pagi itu, Jakarta memang diguyur hujan. Hujan yang turun dari malam hingga menjelang siang hari. Dampak yang ditimbulkan langsung terasa di saat itu juga. Saya harus berjam-jam duduk di dalam mobil tanpa pernah tau, kapan mobil saya akan bergerak maju.

Ketika hendak membayar pada gerbang tol dalam kota, which is itu di halim, saya bingung. Saya bingung karena banyaknya kendaraan yang diam tak bergerak, namun saya bingung karena ada 2 jalur yang tidak dibuka oleh Jasamarga. Pagi itu, jalanan begitu padat oleh mobil-mobil pribadi maupun umum, semua berlomba-lomba untuk cepat sampai pada tujuannya. Tapi, pihak Jasamarga seolah-olah menutup mata dengan kondisi yang demikian. 2 jalur paling kanan tetap tidak dibuka, dibiarkan kendaraan yang sudah terlanjur berada di jalur 1&2 untuk akhirnya harus mengantri ke jalur 3. Keadaan itu memperparah jalanan yang semakiiiiin padat!

Sebenarnya, saya tidak bisa menyalahkan hujan yang menghasilkan TOL dalam kota macet begitu parah. Tidak ada tindakan yang lebih konkrit dari pihak terkait untuk mengatasi keadaan ini. Saya manjadi bingung, siapa yang sebenarnya menjadi keledai? Jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar