Saat terindah saat bersamamu
Begitu lelapnya akupun terbuai
Sebenarnya aku tlah berharap
Ku kan memiliki dirimu selamanya
**Reff:
Segenap hatiku luluh lantak
mengiringi dukaku yang kehilangan dirimu
Sungguh ku tak mampu tuk meredam
kepedihan hatiku untuk merelakan kepergianmu
Ingin ku yakini cinta takkan berakhir
Namun takdir menuliskan kita harus berakhir
--Back to reff
(Luluh, by Samsons)
Penulisan lirik lagu di atas bukan karena saya sedang patah hati, atau sedih karena telah ditinggal orang yang saya sayangi. Dan bukan juga karena saya fans dari grup band Samsons. Namun lagu tersebut tiba-tiba stuck in my head sepanjang hari ini.
Lagu yang tiba-tiba muncul di kepala saya, dan terus membuat saya menyanyikannya. Padahal saya tidak tahu judulnya, sampai-sampai saya mendownload 4 buah lagu Samsons untuk mencari judul yang tepat dari lagu yang terngiang-ngiang di kepala saya.
Di pagi yang gelap serta diguyur hujan, saya naik Kopaja 66 dari halte Kuningan menuju kantor. Ketika sudah duduk di dalam Kopaja tersebut, saya baru menyadari adanya perbedaan dari tingkat kenyamanan. Kursi-nya empuk dan dilapisi sarung jok dengan warna krem muda. Jendela yang bersih serta besi-besi yang tidak karatan. Yang paling menarik adalah adanya televisi yang menyajikan video klip beserta syair dari lagu yang dinyanyikan (vcd karaoke) tentunya beserta speaker berukuran sedang.
Ketika saya berada di dalam Kopaja tersebut, lagu ini sedang diputar. Lagu yang sebelumnya saya jarang dengar, dan saat itu pun saya tidak tuntas mendengarkan lagu tersebut karena saya keburu turun dari Kopaja.
Jadi, apa yang bisa saya ambil dari kejadian ini?
Hmm..
1. Kopaja yang bagus
2. Lagu yang sedih
3. Rasa penasaran yang terobati
hehehe..
Semoga saya bisa naik angkutan umum dengan kondisi sebaik itu.
You Reap What You've Sown : End.
17 tahun yang lalu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar